My Post

Minggu ini khusus unsur budaya "Sistem Religi"

Selasa, 18 Desember 2012

Nyoman Bered, Belut Hidupku


            Tatkala sang mentari kembali pulang ke peraduannya bumi pertiwipun gelap gulita, hanya kerlip bintang yang bertaburan di atas birunya langit. Semua makhluk terlelap dalam mimpi indahnya, namun sesosok pria masih tetap bertarung di tengah sawah demi sesuap nasi di esok hari. Tak ada teman tak ada sanak keluarga hanya dinginnya malam yang masih mau menemaninya, di bawah sinar rembulan pak tua itupun memasang perangkap belut berharap para penghuni sawah terperangkap di dalammnya.
            Pak Nyoman Bered (70) tak pernah menyangka kalau aktifitas itu bisa dijalaninya sampai sekarang pasalnya pada bulan November lalu di tengah sawah ia terjebak dalam hujan lebat disertai semburan petir tiada henti. Hujan lebat yang disertai angin membuat lampu senter yang dibawanya mati, tidak ada yang dapat beliau lakukan dalam kegelapan kecuali menunggu hujan badai tersebut reda. “Saat itu saya sangat takut sebab beberapa hari lalunya ada penangkap belut yang nyaris tersambar petir akibat hujan badai yang terjadi” ungkapnya. Namun alangkah senangnya suami dari Alm. Ni Made Takir (74) itu ketika tengah malam hujan badai itu reda, dan iapun bisa kembali menepi dengan selamat.
            Beliau mengawali karirnya sebagai penangkap belut sejak kecil, ia tidak sempat menamatkan sekolahnya karena masalah biaya, hingga ia harus turun ke dunia kerja di usia sedini itu dan memilih profesi sebagai pencari belut. Bapak itu mengaku sejak kecil ia memang suka berburu, karena sewaktu ia kecil penghasilan menangkap belut hanya cukup untuk mengatasi perekonomian keluarganya. “Memang dulu penghasilan dari menangkap belut itu lumayan, sampai-sampai waktu masih muda saya bisa bikin rumah dari hasil menangkap belut, tapi sayang gek sejak tahun 1999 penghasilan saya merosot tajam” ceritanya. Setelah saya telisik lebih jauh ternyata alasan utama kemerosotan penghasilan penangkap belut itu adalah semakin punahnya binatang ini di sawah dan harganya semakin mahal. Maka dari itu masyarakat jarang mengonsumsi belut dan beralih ke jenis makanan yang lain.
            Meskipun dengan penghasilan seadanya pria yang tinggal di Banjar Keliki itu, tak pernah mengeluhkan profesinya sebab dari hasilnya menangkap belut ia mampu bertahan hidup meski harus berhutang di mana-mana. “Saya hanya tinggal sebatang kara di rumah ini, anak saya hanya satu dan sudah menikah. Dia tinggal di rumah suaminya” tuturnya dengan polos. Pak tua yang berpostur tubuh kurus itu juga mengungkapkan bahwa pendapatannya selama ini tidak pernah mengcukupi, penghasilannya yang tidak tetap membuatnya harus mencari pekerjaan sampingan. “Pendapatan saya toidak  tentu, sesuai musimnya,  kalau lagi musimnya semalam saya bisa dapat 100.000, tapi kalau lagi ndak musimnya saya tidak dapat apa - apa, makanya saya nyari kerjaan sampingan jadi kuli bangunan” ungkapnya.
            Pak Bered sendiri adalah mantan pejuang bangsa yang pernah tertindas dalam pemberontakan G30S/PKI.  Namun, dengan taktik yang beliau lakukan, akhirnya beliau bisa lolos dalam penganiayaan tersebut. Sangat disayangkan sekali, kedua orang tuanya menghilang semenjak kejadian tersebut. “Saya sangat merindukan mereka”, tuturnya. Profesi menangkap belut merupakan tradisi turun – temurun. Orang tuanyalah yang mengajari cara menangkap belut. 1/4 kg  belut beliau jual seharga Rp.7.000,00.
            Banyak kendala yang dialaminya selama kurang lebih 70 tahun menangkap belut, masalah cuaca, kekurangan alat, semakin punahnya binatang ini, karena banyak sawah – sawah yang dijadikan pemukiman, jarak ke sawah (sekitar 200 meter), termasuk pula masalah fisik beliau yang semakin lemah, “Maklum lah gek susah menjaga stamina agar tetap sehat jika terkena angin malam” ungkapnya serius.
            Diakhir pembicaraan kami sempat bergurau, tanpa sadar kami menanyakan apakah Pak Bered berkeinginan untuk banting setir? Jawaban yang sungguh menakjubkan kami dengar dari sosok pencari belut tangguh itu “Tidak” ungkapnya tegas. Katanya beliau sudah mencintai profesi itu, memang terkadang tak ada penghasilan sedikitpun tetapi ketika ada belut yang tertangkap rasanya seperti mendapat mutiara dari putri duyung, apalagi di zaman sekarang semuanya serba uang. Pak Bered pun memiliki harapan besar untuk kehidupannya di usianya yang semakin tua. Akan tetapi, harapan tinggal harapan “mau gimana lagi gek, harapan sih besar tapi tenaga sama modal sudah ndak ada”. Kini Pak Bered hanya bisa bermimpi untuk meningkatkan taraf hidupnya, semua ia serahkan kepada yang di atas, karena beliau yakin usianya tidak akan lama lagi dan ia hanya hidup sebatang kara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar